Senyum Kebajikan

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada apa dengan, Senyum?.

Alhamdulillah wash Sholatu was salaamu ‘ala Rosulillah, wa ‘ala aalihi wa ash-haabihi ajma’in. Wa ba’du:

Islam agama yang ekstrim, kaku dan kering. Para pengikutnya kusut, serem, tidak bisa senyum, dan suka ribut. Dan … dan … dan seabrek doktrin dusta yang ditebarkan oleh musuh-musuh islam dari kaum kuffar dan kaum zindik kepada manusia. Mereka sangat berharap dengan menyebarkan isu-isu yang merusak citra islam, akan membuat manusia akan menjauh darinya. Namun sebaliknya, yang kita dengar setiap saat, manusia berbondong-bondong memeluk agama islam di barat

bahkan di seluruh penjuru dunia.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (8) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُون

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tatapi Alloh tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya [8] Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang membencinya [9]” [QS: 61:8-9].
Kendati demikian, tentunya sebagai orang yang berakal dapat mengambil ibroh dan pelajaran dari isu-isu dusta yang tersebar, dan kemudian sebagai bahan perbaikan.

Mengapa mereka berani mengeluarkan isu yang sangat merusak citra agama ini? pasti ada sebabnya. Tentunya, karena ada sebab keluarnya opini miring tentang islam, yang mereka liat dan baca. Kemudian akhirnya dijadikan senjata untuk merusak harumnya dien yang hanif ini, meskipun itu hanya sebuah tuduhan dan kedustaan.

Rasululloh صلى الله عليه و سلم diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, kita semua meyakini itu. Sebagaimana dalam tutur beliau:
إِنّما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق
“Sesungguhnya, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Dan beliau telah berhasil mencetak akhlak yang mulia tersebut di atas bumi dan disaksikan oleh manusia. Dengan menancapkan iman dengan kuat di dalam dada-dada para sahabatnya, dan ilmu yang sangat diberkahi yang dipupuk terus-menerus.

Islam telah sempurna, kesempurnaan islam telah menyerbak wangi seantero mayapada. Adapun kekeliruan individu yang memeluk islam dalam memahami dan menerapkan islam, tidak menjadi pintu celaan untuk kesempurnaan islam itu sendiri.

Saya akan mengangkat satu amalan yang menjadi contoh kesempurnaan islam. Islam mengajarkan umatnya untuk tersenyum kepada yang lain ketika berjumpa dengannya. Perhatikanlah masalah ini dari banyak aspek ! maka anda akan mendapatkan betapa sempurnanya ajaran islam.

Senyum merupakan ciri kelembutan hati seseorang, lemah lembut perwujudan dari cahaya hidayah sunnah dalam realita kehidupan dan sangat dicintai oleh Alloh عزّوجلّ. Di samping itu juga, senyum menjadi tanda mulianya akhlak seseorang, dan akhlak yang mulia adalah amalan yang sangat berat timbaagannya di sisi Alloh. Dan juga menunjukkan kuatnya ittiba’ seseorang kepada Rasululloh, dimana beliau suka tersenyum kepada umatnya. Dan itu juga sebagai salah satu bukti keimanan dan ketakwaan seseorang, dan tentunya bernilai pahala di sisi Alloh عزّوجلّ; karena senyum adalah sedekah, dan sedekah adalah bukti.

Berikut ini beberapa hadis seputar senyum:
Pertama: Rasululloh صلى الله عليه و سلّم menerangkan bahwa senyum adalah sedekah.
«تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»
“Senyummu di depan saudaramu, adalah sedekah bagimu” [Sahih, riwayat Tirmidzi no 1956 dan yang lainnya] .

Kedua: Senyum adalah kebajikan.
«لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ»

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri”. [Muslim no 2626, dan yang lainnya].

Ketiga: Rasululloh tersenyum kepada para sahabat.
Jarir bin Abdillah menceritakan:
مَا رَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسلَمْتُ إِلَّا تَبَّسَم فِي وَجْهِي
“Rasululloh tidak pernah melihatku sejak aku masuk islam, kecuali beliau tersenyum”. [Sahih, Bukhori di “Adabul Mufrod” no 250, dan yang lainnya].

Dan masih banyak lagi hadis yang menjelaskan tentang tersenyum, wajah berseri-seri. Ini adalah akhlak islam yang dipraktekkan oleh Rasululloh dan para sahabatnya.
Hasan al-Bashri mengatakan, tentang akhlak yang mulia:
كفّ الأذى و بذل النّدى و طلاقة الوجه
Mencegah gangguan, berderma dan wajah berseri-seri.
Tiga hal ini adalah inti dari akhlak yang mulia, dan diantaranya berwajah gembira atau tersenyum kepada manusia. Wallohu waliyyut Taufiq.

Fathul Bari Lomboki.
Jakarta Timur – Kav. Bulak/Klender.
Sabtu, 5-4-2014M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s