Hukum Katak

بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum Memakan Katak

 

Sebagian kaum muslimin bertanya tentang hukum memakan katak, halal atau haram?

Diriwayatkan dari Abdurrohman bin Utsman beliau mengatakan: Seorang dokter pernah bertanya kepada Rasululloh صلى الله عليه و سلّم tentang katak untuk dijadikan sebagai obat, maka beliau melarang membunuhnya” .

Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Abu Daud no 3871 dan 5269, dari jalan Sa’id bin Musayyib, dari Abdurrohman bin Utsman.

Hadis ini disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam sahih sunan Abu Daud.[1]

 

>> Hadis ini menerangkan bahwa, membunuh katak hukumnya haram.

>> Jumhur para ulama’ menarik kesimpulan dari larangan membunuh katak, larangan memakannya. Karena pertanyaan dokter di atas untuk dimanfaatkan sebagai obat kemudian beliau melarang membunuhnya.

Kedua: membunuh katak haram, maka memakannya juga haram dari dua aspek:

> Orang tidak akan dapat memakannya kecuali dengan cara membunuhnya.

> Karena kalo tidak dibunuh, maka harus memakannya dalam keadaan yang lain yakni mati. Dan sangat jelas hukumnya menjadi bangkai, dan bangkai haram menurut ijma’ (konsensus) para ulama’ berdasarkan dalil al-Quran.

 

Dari sinilah keluar satu kaidah: “Semua binatang yang dilarang membunuhnya, haram memakannya.[2]

Maka hadis ini adalah pengkhusus firman Allah عزوجلّ dalam surat Al-An’am ayat 145, yang merupakan salah satu dalil kaidah: “Hukum asal segala sesuatu halal, sampai ada dalil yang mengharamkannya”[3].

Walhasil: haram membunuh katak dan memakannya.

Wallohu A’lam Bilhaq.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fathul Bari.

Selasa, 20-6 jumadilakhir-1434H/30-4-2013M.

Jakarta – Klender.


[1] Lihat kitab “Ithaful Kirom” : hal 418 no 1332, oleh Syekh Shofiyyur Rohman Al-Mubarokfuri. Pustaka Ihyaut Turots Al-Islami-Kuwait. [cetakan ke–V Tahun 1421H/2001M]. dan kitab “Subulus Salam”:4/110 no 1249, oleh Imam Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shon’ani (wafat 1182H). Pustaka Darul Hadis-Kairo/Mesir [cetakan tahun 1428H/2008M]. dan kitab “Syarah Bulughul Marom”: 5/223 no 1280, oleh Syekh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin. Pustaka Dar Ibnul Jauzi–Kairo/Mesir [cetakan ke–I Tahun 1429H-2008M]. dan kitab “Tuhfatul Kirom”: hal 541 no 1289, oleh D. Muhammad Luqman As-Salafi. Pustaka Darud Dai – Riyadh [cetakan ke-III Tahun 1429H].

[2] Lihat kitab “Syarah Bulughul Marom”: 5/224 no 1280.

[3] Lihat kitab “Rhoudhotun nadhzir” halaman 38, oleh Imam Abdulloh bin Ahmad bin Qudamah (541H-620H), Pustaka Dar Ihayaut Turots Al-‘Arobi-Beirut/Libanon [cetakan ke-I Tahun 1431H/2010M].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s