Anak Zina Dinasabkan Kepada Ibunya

بسم الله الرحمن الرحيم

Faidah 13: Anak Zina Dinasabkan Kepada Ibunya.

Rasululloh j bersabda:

(( الولد للفراش و للعاهر الحجر ))

Seorang nak  haknya pemilk ranjang dan untuk lelaki yang berzina batu (tidak mempunyai hak apa-apa) “.

Hadis ini sahih berdasarkan konsensus para ulama islam. Dikeluarkan oleh Imam Bukhori no: 2052, 2218, 2421, 2745, 4303, 6749, 6765, 6817, 6818, 7182 dan Muslim no: 1457, 1458 dan Abu Daud no 2273, 2274, 2275 dan Tirmizi no: 1157, 2120 dan Nasai no: 3482 – 3487 dan Ibnu Majah no: 2004- 2007, 2712 dan Malik dalam kitab “Al-Muwatho’” no: 20 dan Imam Syafi’i dalam “Al-Musnad” no: 91 dan yang lainnya.

Dan dalam riwayat yang panjang, tentang khutbah Nabi j ketika “Haji Wada’ “ beliau bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ أَعْطَى لِكُلِّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ، الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ، وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ… »

“Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’ala telah memberikan untuk setiap yang berhak bagiannya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris, “Anak  itu haknya pemilk ranjang dan untuk lelaki yang berzina batu (pent- tidak mempunyai hak apa-apa)…”

Keterangan:

–          Sabda rasululloh j ( الولد للفراش ) artinya anak tersebut dinasabkan kepada ( الفراش ) yang artinya adalah ranjang, kiasan untuk lelaki pemilik ranjang sang ibu yang mengandung anak tersebut.

–          Sabda beliau ( للعاهر الحجر ) untuk lelaki yang telah berzina dengan wanita tersebut batu, maksudnya tidak mendapatkan hak apa-apa pada anak tersebut, atau terputus seluruh haknya.

Ini adalah mazhab jumhur para ulama’ fikih.

Maka lelaki tersebut tidak mewariskan hartanya kepada anak itu dan tidak pula mendapatkan hak warisan darinya, dan lelaki tersebut tidak memiliki hak sebagai wali nikahnya apabila dia perempuan, meskipun dia itu adalah mahromnya dari segi darah karena anak tersebut adalah air lelaki itu, akan tetapi yang menjadi walinya adalah hakim. Dan dia juga tidak memilki hak asuh dan kewajiban nafkah atasnya.

 Faidah:

–          Hadis ini adalah dalil tentang tetapnya nasab anak hasil zina yaitu kepada Ibunya tidak kepada lelaki yang telah menzinainya. Dan anak tersebut terputus nasabnya kepada lelaki tersebut, tidak dikatakan sebagai bapaknya secara nasab meskipun memilki hubungan darah, namun ini adalah hasil dari hubungan yang tidak sah atau tidak halal. Maka seluruh haknya terputus, dia tidak mewarisinya dan tidak diwarisi olehnya, karena; sebab hak waris ada tiga yang telah disepakati oleh para ulama islam:

  1. Nikah yang sah.
  2. Wala’.
  3. Nasab.

Dan anak dari hasil hubungan yang tidak halal bukanlah anak dari nikah yang sah dan tidak dinasabkan kepada lelaki yang berzina itu.

Imam Ibnu Hazm mengatakan dalam kitab beliau “Al-Muhalla” hal 1856 masalah no 2013:

” و الولد يلحق في النكاح الصحيح … و نفى النبي صلى الله عليه وسلم أولاد الزنى جملة بقوله عليه الصلاة و السلام : (( و للعاهر الحجر )) فصح ما لنا.

“Dan anak dapat hanya dapat dinisbatkan hanya pada nikah yang sah, … dan Nabi j telah menafikan/meniadakan  hak penisbatan anak-anak hasil zina (kepada lelaki yang berzina dengan ibunya) secara mutlak pada sabda beliau j : “ dan untuk lelaki yang berzina batu (tidak memilki hak apapun) “.

Ini adalah petaka dosa zina, sangat buruk dan terhina. Kehidupan sekarang saja telah cukup sebagai azab bagi pezina, apalagi azab yang sangat pedih di akhirat kelak, terlampau sakit dan terhina.

Nas’alulloh As-Salamah.

Fathul Bari.

Jakarta, Klender.

Sabtu, 10 Muharrom 1434H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s