Larangan Puasa Sunat Hari Sabtu

بسم الله الرحمن الرحيم

Puasa Sunat Hari Sabtu

Dari Abdullah bin Busr [Yazid mengatakan: dari saudarinya Ash-Shomma’] beliau mengatakan: Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda :

(( لا تصوموا يوم السبت إلّا فيما افترض عليكم . فإن لم يجد أحدكم إلّا لحاء عنبة أو عود شجرة فاليمضغه ))

“Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu, kecuali puasa yang telah diwajibkan atas kalian,  seandainya salah seorang dari kalian tidak mendapatkan/memiliki kecuali kulit anggur atau ranting pohon maka hendaklah dia mengunyahnya”

Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Abu Daud no 2421, At-Tirmidzi no 744, Ibnu Majah 1726 dan Ad-Darimi no 175.

Disahihkan oleh Imam Al-Albani dalam “Shohih Sunan Abi Daud” no 2092 dan “Irwa’ul Gholil fi Takhriji Ahadiits Manaaris Sabiil” no 960 dan kitab-kitab beliau yang lain.

>> Hadis ini secara zahir memberikan kita satu kesimpulan, bahwa puasa pada hari sabtu terlarang kecuali hanya puasa yang telah Allah wajibkan kepada kita. Maka puasa sunat apapun itu pada hari ini terlarang secara mutlak, baik puasa tersebut digandeng dengan hari sebelumnya ataupun hari sesudahnya.

Penting: Larangan dalam hadis ini diperkuat dengan dua penguat:

Selain adanya Laamu An-Nahyi  atau huruf lam yang merupakan alat untuk melarang dalam gramatikal bahasa arab yang artinya janganlah, ada dua penguat dalam konteks hadis ini.

Al-Istitsna’ pengecualian. Karena Rasululloh صلى الله عليه و سلم hanya mengecualikan dari larangan tersebut hanya puasa yang wajib saja.

– Perintah untuk membatalkan puasa tersebut meskipun hanya dengan mengunyah kulit anggur dan ranting pohon. Untuk menegaskan kepada kita kerasnya larangan puasa pada hari sabtu, kecuali yang wajib.

 

Dan ini nampak bertentangan dengan hadis Juwairiyyah yang melarang puasa pada hari jum’at menyendiri kecuali berpuasa sehari sebelum atau sehari sesudahnya. Dan sesudahnya jelas hari sabtu:

(( هل صمت أمس؟ قالت : لا (( و هل تريدين تصومي غدا؟ قالت : لا ))

“Apakah kamu telah berpuasa kemarin? Dia menjawab tidak. Dan apakah kamu akan berpuasa besok? Dia menjawab tidak”.

Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Bukhori no 1987 dan lain-lain.

>> Zahir hadis ini menjelaskan bahwa, dilarang puasa sunat pada hari jumat menyendiri, kecuali digandengkan dengan puasa sehari sebelum dan sehari sesudahnya. Sesudah hari jumat adalah hari sabtu, maka hadis ini bertentangan dengan hadis larangan di atas.

Penting:

Sabda Rasululloh صلى الله عليه و سلم kepada Juwairiyya berbunyi:

هل تريدين أن تصومي غدا

Dan apakah  kamu ingin berpuasa besok?

Ini adalah littakhyiir artinya memberikan dua pilihan. Bukan suatu perintah sehingga kita keluarkan hukum darinya harus berpuasa hari sabtu, namun paling tidak adalah untuk menjelaskan kebolehannya. Karena dalam kondisi ini Juwairiyyah tidak tahu hukum larangannya.

Walhasil dengan hadis ini, puasa pada hari sabtu adalah boleh.

Bagaimana sikap kita dengan  kedua dalil di atas, yang sama-sama sahih namun nampak bertentangan?

>> Para ulama’ fikih menjelaskan sebuah kaidah untuk mencari titik temu antara dua dalil yang nampaknya bertentangan dan sama-sama kuat yaitu kaidah:

الجمع أولى من الترجيح إن أمكن الجمع

“Menggabungkan antara dua dalil yang bertentangan dengan mencari titik temunya, itu lebih diutamakan daripada menguatkan salah satunya apabila memungkinkan untuk digabungkan”.

Kaidah ini adalah kaidah yang disepakati oleh semua ulama’ fikih, sebagai salah satu solusi untuk memecahkan banyak masalah ilmiah dalam ilmu fikih.

Namun perlu kita ketahui bahwa, menggabungkan dan mencari titik temu antara dua dalil yang zahirnya bertentangan harus dengan syarat memungkinkan atau bisa untuk digabungkan. Apabila tidak memungkinkan, maka tidak ada jalan lain kecuali harus dikuatkan salah satu dari keduanya yang disebut Tarjih.

Sedangkan dalam kondisi ini, kaidah di atas tidak bisa kita terapkan secara mutlak dan tidak memungkinkan untuk menggabungkan kedua dalil yang nampak bertentangan. Karena adanya pengecualian yang cukup dalam hadis larangan ini, sehingga  menghalangi kita untuk bisa mempertemukan titik pertentangannya yang sangat kuat.

 

~ Apabila tidak bisa digabungkan dan inilah kenyataannya, maka salah satu dari kedua dalil ini ditarjih.

Ada sebuah kaidah usul fikh yang populer dikalangan para ulama’ dalam menguatkan salah satu dari dua dalil yang nampaknya bertentangan yaitu kaidah:

إذا تعارض الحاظر مع المبيح فإنّه يقدّم الحاظر على المبيح

“Apabila bertentangan dua dalil, antara yang membolehkan dan yang melarang, maka dikuatkan dalil  yang melarang”.

Kaidah ini telah populer di kalangan para salaf, dari zaman sahabat dan sesudah mereka رضي الله عنهم جميعا .

Penjelasan:

– Hadis Abdulloh bin Busr melarang berpuasa pada hari sabtu, kecuali puasa yang telah Allah wajibkan.

– Hadis Juwairiyyah membolehkan berpuasa pada hari Jumat apabila digandengkan dengan hari sebelum dan sesudahnya. Dan sesudah hari Jumat hari Sabtu.

Kedua dalil ini bertentangan, apabila kita menerapkan kaidah di atas dan hanya ini jalan satu-satunya kita dapat menarik kesimpulan:

* Bahwa puasa pada hari sabtu terlarang secara mutlak, kecuali puasa yang diwajibkan kepada kita.

Maka semua puasa sunat, apabila bertepatan dengan hari Sabtu tidak dikerjakan, karena larangan lebih dikedepankan daripada yang membolehkan. Seperti puasa Daud, 6 hari bulan Syawwal, Arofah, puasa asyuro’ ( baca: https://bahasilmu.wordpress.com/2012/11/23/puasa-9-dan-10-muharrom/ ) dan puasa hari bidh dan puasa yang lainnya.

 

Pendapat ini dipopulerkan oleh Abdulloh bin Busr sahabat Nabi صلى الله عليه و سلم  dan banyak para ulama’ salaf sebagaimana yang telah diterangkan oleh Imam Ath-Thohawi dalam kitab beliau “Syarh Musykilul Atsaar” dan dari kalangan ulama’ abad ini adalah Syekh As-Sayyid Shiddiq Hasan Khon dalam kitab beliau “Ad-Duror Al-Bahiyyah” dan syarahnya “Rhoudhotun Nadhiyyah”, dan juga telah dipopulerkan oleh ulama’ ahli hadis abad ini yakni Syekh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam karya-karya ilmiah beliau dan kajian-kajiannya -semoga Allah merahmati semua ulama’ kita-.

Wallohu ta’ala a’lam.

* Faidah ini kami dapatkan dari diskusi Syekh Al-Albani dan Syekh Abdul Muhsin Al-Badr, dan dari kitab “Silsilah Ash-Shohihah” karya Syekh Al-Albani di beberapa tempat *.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fathul Bari Lomboki.

Jakarta, Sabtu 7  Syawwal 1433H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s