Anjuran Membersihkan Teras dan Halaman Rumah

بسم الله الرحمن الرحيم

Membersihkan Teras Rumah

 

Tidak ada yang tidak setuju bahwa syariat islam yang hanif telah sempurna. Semua kita pasti percaya bahwa islam telah mengangkat peradaban manusia dan mewariskan khazanah ilmu yang sangat luas untuk masyarakat madani seantero mayapada.

Seluruh problematika yang telah menghantui manusia setiap detiknya, pasti di dalam islam telah ada solusinya. Mulai dari masalah yang terkecil sampai yang terbesar, yang lahir maupun yang batin, telah dijelaskan dengan rinci dalam islam.

Para pengekor kapitalis dan komunis telah mengklaim bahwa, nilai estetika dan keindahan telah mereka temukan pertama kali dari dunia barat. Padahal barat pada beberapa masa yang silam masih tenggelam dalam samudra kebodohan, terpuruk dalam belenggu kejahilan. Mereka tidak pernah mengenal peradaban modern kecuali setelah mencuri korpus-korpus ilmiah dari tangan kaum muslimin dari perpustakaan andalusia.

Namun sangat disayangkan, banyak dari anak islam sendiri yang terpukau dengan kemilau peradaban yang ditawarkan barat. Tidak sedikit dari mereka yang minder dan berburuk sangka dengan nilai-nilai yang ada dalam ajaran islam itu sendiri. Banyak yang tertipu dengan rayuan bahasa media yang lebih condong kepada barat, dan selalu menyudutkan islam yang hanif. Tudingan bahwa islam tidak mengajarkan kebersihan atau tidak mengajak kepada seni dan nilai estetika suatu sarana dan prasarana dalam masyarakat madani, terkadang sering dilontarkan oleh sarjana nonmuslim maupun yang mengaku cendikiawan muslim, padahal mereka tidak mengenal tentang islam kecuali warnanya yang telah tercoreng oleh tangan jail dan hasad para pemalsu sejarah atau dengan sebab sebagian tingkah laku sebagian kecil individu.

Islam empat belas abad yang lalu telah mengajarkan manusia hidup sehat, bersih dan nilai estetika dalam hidup masyarakat. Diantara bukti yang sangat jelas dan otentik adalah perintah Nabi kita yang mulia j untuk senantiasa membersihkan teras rumah, karena kaum Yahudi dahulu tidak membersihkan teras rumah mereka. Rasulullah j bersabda:

” طهروا أفنيتكم فإن اليهود لا تطهر أفنيتها “

Bersihkanlah halaman rumah kalian, karena sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak membersihkan halaman rumah mereka”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ath-Thobroni[1] dalam “Al-Mu’jam Al-Ausath”[2]: 4/231 no 4057, dan disahihkan oleh Syekh Muhammad Nasiruddin Al-Albani[3] dalam kitab beliau “Silsilatul Ahadits Ash-Shohihah”[4]: 1/427 no 236.

 

>> Perintah pada hadits ini sangat  jelas sekali untuk membersihkan halaman-halaman rumah kita, sebagai bentuk upaya menghindari tasyabbuh dengan mereka orang-orang Yahudi dalam ciri khas mereka. Dan termasuk ciri khas mereka adalah tidak menjaga kebersihan halaman rumah mereka, oleh karena itu kita dilarang untuk menyerupai mereka. Lihatlah betapa terpuruknya Yahudi empat belas abad yang silam, membersihkan halaman rumah pun mereka tidak bisa, sehingga hal itu menjadi ciri khas mereka.

Dengan demikian, tidak ada yang tidak setuju, bahwa klaim estetika dan seni dalam islam telah terwakili dengan hadis yang ringkas ini. Karena islam telah memperhatikan keindahan dan kebersihan halaman rumah, dimana kaum Yahudi dahulu telah melalaikannya.

Islam telah mengenal nilai keindahan, sebelum barat mengenal WC dalam rumah-rumah mereka. Apakah ada klaim yang lebih palsu dari klaim barat?

Setelah mereka mengambil faidah ilmiah dari kita umat islam, namun mereka mengklaim keistimewaan tersebut untuk diri mereka, dan menyembunyikan fakta historis pahit ini. Bukankah ini penipuan akademis? Sarjana manakah yang mau melakukan klaim palsu seperti ini?.

Namun, tetap saja orang yang buta hatinya dengan cahaya sunnah dan sejarah islam yang sebenarnya, telah termakan doktrin barat yang benar-benar telah mengkristal dalam benak mereka. Dan tak heran, apabila ada orang islam yang malu dengan keislamannya karena sihir doktrin seperti mulut bawa madu tapi pantat bawa sengat.

Saya tidak akan menarik memoar kita lebih jauh, untuk menyaksikan sejarah beberapa abad yang silam, karena produk mereka telah sangat laris dipasaran kita. Banyak dari orang islam yang lebih mengenal idealisme barat, daripada idealismenya sendiri.

Wallohul Musta’an.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fathul Bari Lomboki.

Jakarta, Rabu 3 Dzulqo’dah 1433H/19 September 2012M.


[1] Beliau adalah Al-Imam Abul Qosim, Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthoyyir Al-Lakhmi Asy-Syaami, yang populer dengan sebutan Ath-Thobroni salah seorang ulama’ yang memiliki umur yang panjang, (tahun 260-360H) semoga Allah merahmati beliau.

[2] “Al-Mu’jam Al-Ausath” karya Imam Ath-Thobroni, Pustaka Darul Haramain – Kairo Mesir, diteliti oleh Abu Mu’adz Thoriq bin ‘Iwadhulloh bin Muhammad dan Abul Fadhl Abdul Muhsin bin Ibrohim Al-Husaini [cet tahun 1415H/1995M].

[3] Beliau adalah Syeikh Muhammad Nasiruddin bin Haaj Nuh Najati, lahir pada tahun 1914M dan wafat pada tahun 1420H, semoga Allah merahmati beliau.

[4] “Silsilatul Ahadits Ash-Shohihah” karya Syekh Al-Albani, Pustaka Al-Ma’arif – Riyadh Saudi Arabia, [cet 1415H/1995M].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s