Berjabat Tangan dengan Wanita

بسم الله الرحمن الرحيم

Larangan Berjabatan dengan Lawan Jenis

Pertanyaan: apakah hukumnya berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahromnya? dan jelaskan dalilnya?

Jawab: kita jawab pertanyaan ini dengan sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم yang tidak berucap dengan hawa nafsunya melainkan wahyu dari Allah عزّ و جلّ.

Dari Mi’qol bin Yasar رضي الله عنه beliau mengatakan: Rasulullah صلى الله عليه و سلم  bersabda:

 << عن معقل بن يسار قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: << لأن يُطعَنَ في رَأسِ أَحَدِكُم بِمَخِيطٍ مِن حَدِيدٍ خَيرٌ لَهُ مِن أَن يَمُسَّ امرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum  besi lebih baik baginya, daripada menyentuh seorang wanita[1] yang tidak halal untuknya”.

Syekh Muhammad Nasiruddin Al-Albani mengatakan: “Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Ar-Ruyyaani dalam “Musnad”beliau: 2/232 no 1283, dan Ath-Thobroni dalam “Al-Mu’jam Al-Kabir”: 20/212 no 486 dan 487. Dan isnad hadis ini jayyid [lihat perkataan beliau dalam kitab: “Silsilah Ash-Shohihah: 1/447 no: 226.]

Hadis ini datang dengan bentuk konsep berita atau pemberitahuan, namun dalam bahasa arab mengandung makna larangan. Sehingga dapat kita tarik beberapa faidah dan kesimpulan dari hadis yang mulia ini sebagai berikut:

  1. Hadis ini adalah ancaman yang sangat dahsyat dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم untuk orang yang melakukan perbuatan tersebut, yaitu menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Yakni wanita yang bukan mahromnya atau yang bukan istrinya, begitu juga sebaliknya.
  2. Hadis ini menjelaskan kepada kita bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa, karena pelakunya terancam dengan siksaan yang sangat pedih sekali, yakni ditusuk kepalanya dengan jarum besi. Dan tidak ada yang tidak tahu bahwa hukuman yang keras adalah untuk perbuatan yang dilarang dengan keras juga.
  3. Masuk kedalam katagori ini bahkan lebih dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya (yakni seorang muslim) adalah berjabat tangan ketika salam kepada mereka.
  4. Hadis ini adalah peringatan untuk orang-orang yang meremehkan masalah ini dari kebanyakan kaum muslimin. Yang kerja di kantoran, yang pacaran dan bahkan di tengah masyarakat, yang tidak lagi memperhatikan nilai-nilai keislaman ini.

»    Keadaan-keadaan dikecualikan dari larangan di atas:

–          Pengobatan; seorang dokter laki-laki boleh menyentuh bagian yang sakit dari tubuh pasiennya yang sedang dalam keadaan darurat, dengan syarat tidak ada dokter wanita di daerahnya dan pengobatannya itu sangat darurat sekali.

–          Dan sebaliknya dokter wanita juga boleh mengobati pasien pria dengan menyentuh bagian yang urgen untuk disentuh apabila dalam keadaan darurat, selama tidak ada lagi dokter pria yang sanggup membantu mengobatinya secara medis.

»    Alasan dibolehkannya perbuatan di atas adalah karena adanya darurat;

–          Dengan dalil kaidah fikih yang populer dikalangan para ulama’ dan telah menjadi kesepakatan mereka yaitu kaidah( الضَّرُورَات تُبِيح المحظورات ) “Ad-Doruroot tubiihul mahdzuuroot” artinya semua keadaan yang darurat membolehkan seseorang mengerjakan sesuatu yang hukum asalnya terlarang.

Dan ini adalah praktik kaum salaf dari kalangan para sahabat wanita dahulu mengobati para mujahidin yang tengah terluka di medan perang.

–          Dan darurat menurut istilah dalam kaidah syara’ adalah keadaan yang mengantarkan manusia kepada kondisi yang apabila tidak diperhatikan akan menyebabkan hilangnya nyawa.

–          Penting: Keadaan darurat harus benar-benar nyata dan harus juga diperhatikan kadar dan batasannya, karena ada kaedah yang lain dan berbunyi “Ad-Dhorurot tuqoddar bi qodariha” artinya “darurat itu diukur kadar dan besarnya darurat tersebut”.

Jadi tidak hanya sekedar mengetahui kaidah ini kemudian diterapkan secara serampangan. harus mengetahui terlebih dahulu Al-Mqhosid Asy-Syari’yyah dalam masalah ini.

 

Kesimpulan:

–          Dilarang menyentuh wanita yang bukan mahrom tanpa ada udzur syar’i. Dan udzur yang dimaksud adalah keadaan darurat, seperti pengobatan atau tindakan penyelamatan jiwa seseorang.

–          Berjabat tangan ketika bersalaman dengan wanita yang bukan mahrom adalah haram, begitu juga sebaliknya.

–          Ancaman yang sangat dahsyat ini dari lisan Rasulullah j adalah pemutus kegelisahan orang-orang yang masih takut kepada selain Allah azza wa jalla. Mereka yang masih merasa berat terhadap sikap manusia, meskipun Allah mengancam dengan ancaman yang sangat pedih. Adapun orang yang beriman, hati mereka tidak akan goyah dan akan mengatakan sami’na wa atho’na yakni kami mendengar seruan Allah dan Rasulnya dan kami patuh dan tunduk terhadap perintah dan larangannya.

 

Syubhat: Wanita yang sudah lanjut usia dibolehkan melepas hijab luarnya di dalam rumahnya, maka tidak mengapa bersalaman atau menyentuh mereka.

Jawab: syubhat ini sangat lemah sekali jika ditinjau dari sisi akademis para sarjana muslim. Karena dua hal:

  1. Dia mengkiyaskan antar hukum berjabat tangan yang ada dalilnya dengan hukum melepas hijab luar bagi wanita tua di dalam rumahnya yang ada dalilnya, dan ini adalah salah satu bentuk atau macam kiyasfasid. Kedua permasalahan tersebut ada dalilnya masing-masing, sedangkan kiyas yang muktabar adalah mengkiyaskan suatu masalah yang tidak ada dalilnya dengan masalah yang telah datang dalilnya dari Al-Quran dan Sunnah karena satu illat yang sama pada dua kondisi tersebut.
  2. Kedua kiyas ini fasid karena berhadapan dengan nash hadis yang qhot’i, padahal dalam kaidah dinyatakan “la ijtihada fi mauridin nash”  tidak boleh ada ijtihad atau gugur suatu ijtihad dan tidak dianggap apabila bertentangan dengan nash.

 

Wallohu ta’ala A’lam.

 

 

 

Al-Fath bin Mahsyar Lomboki,

Jakarta, 6 Dzulqoidah 1433H/22 September 2012M.


[1] Maksudnya adalah wanita yang bukan mahromnya. Masuk kedalam katagori ini, sepupu, ipar, besan, istri paman, yang tidak termasuk kedalam mahrom seseorang sebagaimana yang telah Allah jelaskan di dalam surat An-Nisa’ ayat 23:

{ حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُوراً رحيماً }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s