Tanda Kebahagiaan Hamba Bermanfaat Bagi Manusia

بسم الله الرحمن الرحيم

Tanda Kebahagiaan Hamba

Bermanfaat Bagi Manusia

Faidah : Rabu, 14 Jumadilakhir 1434H.

Rasululloh j bersabda:

(( إِنَّ لِلهِ أَقْوَامًا يَخْتَصُّهُم بِالنِّعَمِ لِمَنَافِعِ العِبَادِ، وَ يُقِرُّهُم فِيهَا مَا بَذَلُوهُ, فَإِذَا مَنَعُوهَا نَزَعَهَا مِنْهُم، فَحَوَّلَهَا إِلَى غَيْرِهِم ))

“Sesungguhnya Allah عزوجلّ  memiliki hamba-hamba yang Allah istimewakan dengan karunianya, untuk memberikan manfaat bagi manusia, dan Allah senantiasa menetapkan mereka di atas karunia itu selama mereka mendermakannya, apabila mereka mencegahnya (-tidak mengeluarkannya) Allah akan mencabut karunia itu dari mereka, dan akan Allah pindahkan kepada selain mereka”.

Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abid-Dunya, Imam Ath-Thobroni dan yang lainnya. Dan telah dihasankan oleh syekh Al-Albani.[1]

 

Hadis yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa, Allah berkehendak untuk melimpahkan karunianya kepada sebagian hambanya. Agar hamba tersebut mau bersyukur dan mendermakan sebagiannya untuk memberikan manfaat bagi manusia. Apabila Allah عزوجلّ menghendaki kebaikan untuknya, Allah jadikan dia mengenal dan merasakan karunia Allah ini kemudian dia mau mensyukurinya. Karena ketahuilah..! sesungguhnya nikmat itu diikat dan bertambah dengan rasa syukur[2] dan akan lepas dengan mengingkarinya.[3]

Imam Ibnul Qoyyim  رحمه الله mengatakan:

“Diantara tanda kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba adalah setiap kali bertambah ilmunya semakin bertambah tawaduk dan belaskasihnya, dan setiak kali bertambah amalannya semakin bertambah rasa takut dan kekhawatirannya, dan setiap kali bertambah umurnya semakin berkurang sifat rakusnya (-terhadap dunia)[4],  dan setiap kali bertambah hartanya semakin bertambah kedermawanannya …”[5].

Syekh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di رحمه الله  mengatakan:

“Dan pada firmannya { و مما رزقناهم ينفقون }[6] terdapat isyarat bahwa harta-harta tersebut yang ada di genggaman kalian, bukanlah semata-mata karena daya, upaya dan kekuasaan kalian, melainkan itu semua rizki yang Allah anugrahkan kepada kalian. Maka sebagaimana Allah telah menganugrahkan kalian dan telah mengistimewakan kalian dengan rizki tersebut atas banyak hamba-hambanya, maka bersyukurlah kepadanya dengan mengeluarkan sebagian karunia tersebut, dan tolonglah saudara-saudara kalian yang miskin”

Kemudian beliau mengatakan:

“Sering sekali Allah menggabungkan penyebutan antara salat dan zakat di dalam Al-Quran. Itu karena salat mengandung keikhlasan untuk yang Allah dzat yang berhak disembah, sedangkan zakat dan infak mengandung ihsan (perbuatan baik) kepada hamba-hamba Allah.

Sehingga alamat kebahagian seorang hamba ada pada keikhlasannya kepada Allah dzat yang berhak disembah, dan usaha kerasnya[7] untuk memberikan manfaat bagi makhluk. Begitu juga sebaliknya, tanda kesengsaran seorang hamba hilang darinya dua hal ini, tidak ada keikhlasan dan juga tidak ihsan (berbuat kebaikan untuk orang lain)”[8].

Saya akhiri torehan ini dengan tuturabdi Nabi kita j :

(( خير النّاس أنفعهم للنّاس ))

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”[9]

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang sanggup mensyukuri nikmat-nikmatnya dan bermanfaat bagi hamba-hambanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fathul Bari Al-lomboki.

Di tengah keheningan malam hingga menjelang fajar.

Jakarta – Kampung Bulak Klender.

Rabu 25 april 2013M.


[1] lihat “Silsilatul Ahaadiits Ash-Shohiihah”: [4/264 no 1692] oleh Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحمه الله . Pustaka Al-Ma’arif – Riyadh, [cetakan terbaru tahun 1415H-1995M].

[2] Lihat surat Ibrohim ayat 7.

[3] Lihat “Mukhtashor Al-fawaid Ibnul Qoyyim”hal 72, oleh D. Ahmad bin Utsman Al-Mazid. Pustaka Darul Wathon-Riyadh [cetakan ke – VI tahun 1428H].

[4] Itu karena manusia diciptakan membawa tabiat dan watak sangat tamak dan cinta dengan harta sebagaiman yang telah Allah firmankan dalam banyak ayat diantaranya surat Al-Fajr ayat 20 dan Al-‘Adiyaat ayat 8.

[5] Lihat Mukhtashor Al-Fawaid hal 65 .

[6] “..dan mereka menafkahkan sebagian rizki yang kami anugrahkan kepada mereka” Al-Baqoroh ayat 3.

[7] Ini menerangkan bahwa, orang-orang kaya tersebut merekalah yang harus berusaha keras untuk mendermakan hartanya. Jangan sampai menunggu orang-orang fakir datang mengemis kepadanya. Oleh sebab itulah, orang-orang kaya harus berilmu tentang harta tersebut dan belajar agar mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.

[8] Lihat kitab “Taisirul Kariimir Rohman fi Tafsiiri Kalamil Mannaan” hal 41, oleh Syekh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di رحمه الله  (1307-1376H). Pustaka Ar-Risalah – Beirut/Libanon [cet ke-I tahun 1423H/2002M].

[9] Lihat “Silsilah Ash-Shohihah” no 426 dan 906.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s